Oleh Sarie Febriane
Keyakinan Kelly Tan, Vice President Enterprise Printing Hewlett-Packard Imaging & Printing Group Asia Pacific and Japan, memang tak berlebihan. Kedigdayaan teknologi acap kali menorehkan paradoks. Meski kita sesumbar menganggap diri telah hidup di era serba digital, nyatanya kita tetap tak sanggup meninggalkan temuan "purba", yaitu kertas.
Tak mengherankan, gagasan paperless office atau kantor tanpa kertas hanya tinggal slogan futuristik yang semakin kehilangan energi. Adalah majalah bergengsi Bussiness Week yang pertama kali memprediksikan ramalan paperless office tersebut pada Juni 1975.
Setelah genap 32 tahun lalu slogan itu berkumandang, kini HP justru semakin menegaskan keberadaannya sebagai perusahaan terdepan dalam dunia cetak-mencetak, yang notabene berurusan dengan kertas. Semakin asyik teknologi printer akan semakin doyan pula orang mencetak, selanjutnya semakin tinggi pulalah konsumsi kertas. Tentu saja pohon di planet ini akan terus ditebang untuk bahan baku pulp (bubur kertas).
Untuk pasar Asia Pasifik, Juni 2007 HP mulai melempar produk printer terbarunya, yakni HP CM8060/CM8050 Color MFP (multi-function printers). Boleh dibilang, kali ini HP membuat terobosan radikal dalam dunia cetak-mencetak dengan menciptakan teknologi yang disebut edgeline.
Teknologi cetak berbasis tinta tersebut ditujukan untuk kepentingan pencetakan (printing) bervolume besar di kantor dengan kecepatan tinggi dan biaya rendah. Yang juga menggiurkan, biaya pencetakan berwarna akan sama saja dengan pencetakan monokrom alias hitam putih.
Sebab itulah, Kelly bisa begitu percaya diri saat membuka peluncuran produk printer terbaru ini di Beijing, China, April lalu.
Pada printer berteknologi edgeline, susunan printheads terentang sejajar dengan lebar halaman kertas. Saat mencetak, kertaslah yang bergerak di bawah susunan printheads tersebut. Antara kertas dan printheads pun tidak terjadi kontak. Pada setiap printhead terpasang lima cip silikon, yang masing-masing memiliki 2.112 nozzle (lubang penyemprot).
Dengan menjadikan kertas yang bergerak, bukan printheads, kecepatan saat mencetak dapat diperoleh maksimum, yaitu hingga 71 lembar per menit untuk kertas berukuran A (8,5 x 11 inci). Meski printer tersebut berbasis tinta, hasil cetakan pun cepat kering dan tahan air.
Kelly meyakini printer berteknologi edgeline tersebut akan mampu meningkatkan produktivitas dan kreativitas penggunanya. "Dan, biaya operasional untuk pencetakan berwarna bisa hemat hingga 30 persen," ujar Kelly.
Dalam sistem pencetakan digital selama ini, printer inkjet mampu memberikan ketajaman warna maksimal, sementara printer elektrofotografik (laser) mampu mencetak dengan kecepatan lebih tinggi ketimbang inkjet. Dengan riset selama empat tahun yang melibatkan sedikitnya 500 tenaga ahli, akhirnya diciptakanlah teknologi pencetakan yang mampu menggabungkan kedua manfaat itu.
Gary Cutler, Vice President and General Manager of HP Edgeline Technologies, mengatakan, dengan printer generasi baru itu, diharapkan aktivitas cetak-mencetak berwarna lebih bergairah, apalagi biaya yang dikeluarkan pencetakan berwarna sama saja dengan hitam putih. Sebab, bagaimanapun, warna semakin memainkan peran penting dalam berbagai kepentingan bisnis.
Printer multifungsi tersebut pun dapat digunakan sebagai mesin foto kopi, faksimile, pemindai (scan), hingga fungsi e-mail. Setiap unit printer HP dengan teknologi edgeline hanya dapat disewa, yang sudah termasuk servis dan manajemen cetak-mencetak di suatu perusahaan. Sistem ini menjadi jauh lebih ekonomis ketimbang membeli suatu printer menjadi barang inventaris kantor. Dengan demikian, urusan cetak-mencetak di suatu kantor didelegasikan kepada pihak luar (outsource).
Pengalaman dari Korean Exchange Bank, yang menjalani kontrak outsourcing HP Managed Print Service (MPS), mampu memotong hingga 20 persen anggaran kantor tahunan. Penggunaan mesin printer, urusan manajemen cetak-mencetak kantor, perawatan, hingga servis sudah menjadi satu paket dalam sistem MPS tersebut.
Sistem demikian boleh dibilang suatu terobosan juga. Jadi, sebuah perusahaan pun tak perlu lagi pusing-pusing mengelola segala urusan menyangkut peralatan cetak-mencetak, berikut perlengkapan dan perawatannya. Terlebih, secanggih-canggihnya suatu teknologi, tanpa manajemen yang tepat dalam penggunaannya kadang malah bisa membikin hidup lebih rumit.(KOMPAS)

