Fokus
Berharap pada Sang Gadjah Mada ICT
Artikel terkait

Beri Komentar

RSS Feed


Beri Rating :
Sabtu, 25 Agustus 2007 | 13:59 WIB

Oleh AW Subarkah

Dinamika bisnis bidang teknologi informatika dan komunikasi di Tanah Air selama ini lebih menyentuh pada bagian terdepannya, bagian yang langsung menyentuh kebutuhan para konsumen, sementara persoalan mendasar dalam menyediakan infrastruktur TIK di negeri ini belum disentuh secara benar.

Tahun 2007 merupakan tahun yang penting dalam membangun infrastruktur teknologi informatika dan komunikasi (TIK atau ICT) di Indonesia: akan bergerak maju atau tetap amburadul. Membangun infrastruktur dasar atau backbone sangat penting, tetapi memang tidak menarik bagi investasi mengingat luasnya wilayah republik ini sehingga dibutuhkan semangat Gadjah Mada untuk "mengikat" negeri ini.

Kemajuan yang bisa seiring dengan perkembangan dunia hanya menyentuh bagian ujung tombak dari dunia TIK ini. Hampir setiap ponsel canggih atau ponsel PDA yang diperkenalkan di luar negeri juga dilakukan di negeri ini.

Namun, tanpa jaringan yang memadai sebenarnya perangkat-perangkat canggih itu hanya menjadi seperti organizer belaka. Alat canggih dan berharga mahal tersebut sebagian besar hanya digunakan untuk bercakap-cakap, dan paling banter hanya untuk melakukan komunikasi SMS, sama seperti ponsel murah saja.

Peran operator atau apa pun namanya belakangan semakin memainkan peran penting, tetapi penyelenggara telekomunikasi ini pun tidak berdaya tanpa adanya jaringan utama atau backbone. Bukan hanya komunikasi menjadi sulit, tetapi juga biaya yang dibebankan kepada para penggunanya menjadi mahal.

Pernah digagas konsep Nusantara 21 ketika internet sedang tumbuh di negeri ini, tetapi tenggelam oleh krisis moneter dan meriahnya agenda-agenda politik. Setelah sekian lama berjalan tanpa arah, sekarang mulai memperlihatkan harapan kembali dengan rencana menggelar jaringan Palapa Ring yang diharapkan bisa membantu menyelesaikan sebagian persoalan TIK.

Harapan ini setidaknya juga didukung dengan keyakinan operator menjalankan aktivitasnya. PT Indosat dan Excelcomindo Pratama (XL), misalnya, sudah menyiapkan pengembangan jaringan high-speed packet access (HSPA), jaringan "penjemput" ponsel canggih yang merupakan peningkatan dari jaringan HSDPA atau jaringan 3.5G yang sudah ada saat ini.

Kedua perusahaan tersebut sedang berlomba menjadi yang terdepan di negeri ini dan keduanya sama-sama menjalin kerja sama dengan vendor jaringan Ericsson. Namun, sekali lagi dengan jaringan di ujung tombak mutakhir ini tanpa didukung jaringan backbone yang kuat, kecepatan HSPA yang ditawarkan hanyalah "omong kosong".

Pemetaan jaringan FO

Setelah sekian lama dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, memang dampaknya infrastruktur telekomunikasi hanya ada di daerah ekonomis yang berkembang, dan ini pun tumbuh secara semrawut dan sendiri-sendiri. Adapun daerah kering, seperti kawasan Indonesia bagian timur, sama sekali tidak tersentuh jaringan backbone.

Kondisi di Indonesia bagian barat saat ini setidaknya sudah tergelar empat main-backbone yang dibuat operator, tetapi satu dengan lainnya saling tumpang tindih dan tidak terintegrasi. Oleh karena itu, untuk kepentingan nasional, jaringan ini tidak saling mendukung. Selain itu, harga pemakaian bandwidth-nya menjadi tinggi karena masing-masing memang hanya untuk kepentingan pemiliknya.

Dengan membentuk Palapa Ring jaringan bagian barat, maka empat jaringan utama milik Telkom, Indosat, XL, dan Comnet+ (milik PLN) akan terintegrasi. Jaringan yang tergelar sendiri-sendiri ini bisa membentuk topologi ring, artinya jika salah satu saluran mengalami gangguan (terputus atau overload), komunikasi masih bisa diselenggarakan dengan menggunakan saluran yang lain.

Peristiwa terputusnya jaringan serat optik (FO) di dasar laut Taiwan tempo hari menunjukkan secara jelas betapa lemahnya jaringan di Indonesia. Hanya jaringan yang tidak menggunakan saluran internasional ke Asia Pasifik (termasuk satelit) yang bisa selamat waktu itu.

Hanya, memang, mengintegrasikan jaringan yang ada sangatlah tidak mudah karena masing-masing membangun tanpa standardisasi menurut kepentingan nasional. Peran pemerintah menjadi sangat penting, termasuk mendamaikan harga bandwidth yang berbeda-beda. Bisa juga dengan membangun jaringan baru untuk mempermudah, tetapi biaya juga akan lebih besar dan lebih mahal.

Kondisi saat ini, jaringan FO Telkom sudah menjangkau seluruh kota besar di Jawa dan Bali. Di luar daerah gemuk ini juga sudah menjangkau sebagian kota besar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan FO backbone Indosat di kota besar di Jawa dan Sumatera, selain FO laut Jakarta-Medan.

Untuk XL, selain seluruh kota besar di Jawa dan Bali, jaringan FO juga diteruskan ke Mataram dan Makassar. Selain jaringan dari Jakarta-Metingi-Jambi, dan belakangan sudah menggelar FO dari Jakarta sampai Batam untuk kemudian diteruskan ke perusahaan induknya, Telekom Malaysia, dan tersambung ke jaringan internasional langsung ke AS yang dibangun oleh konsorsium AAG (Asia America Gateway).

Adapun Comnet+ memiliki FO di sepanjang saluran interkoneksi listrik Jawa dan Bali. Semula, jaringan FO ini memang hanya untuk lalu lintas data kelistrikan dan tentu saja masih banyak kapasitas yang belum termanfaatkan.

Palapa Ring timur

Saat ini sedang dipersiapkan sebuah konsorsium yang dibentuk untuk merealisasikan pekerjaan besar ini. Konsorsium itu terdiri dari perusahaan-perusahaan besar, PT Telkom, Indosat, Excelcomindo Pratama (XL), Bakrie Telecom, Infokom Elektrindo, Macca System Infokom, dan Powertek Utama Internusa.

Berbeda dengan jaringan backbone di barat, kondisi di daerah timur sangat miskin. Oleh karena itu, perlu dibangun jaringan yang baru sama sekali untuk membentuk Palapa Ring bagian timur. Dengan infrastruktur ini diharapkan akan terjadi pertukaran informasi yang artinya menumbuhkan aktivitas, baik aktivitas sosial, budaya, maupun bisnis.

Secara khusus, jaringan Palapa Ring bagian timur akan dibuat koneksi internasional ke Amerika Serikat yang menjadi kiblatnya internet. Ada beberapa pilihan tempat untuk menambah bandwidth internasional, melalui Sulawesi Utara ke Filipina, di selatan ke Australia, ke timur ke AS melalui Guam, selain koneksi integrasi ke barat dengan Palapa Ring bagian barat Indonesia.

Pembangunan jaringan internasional ini setidaknya sejalan dengan aktivitas konsorsium AAG, sebuah konsorsium jaringan kabel optik laut. Konsorsium ini akan menggelar jaringan FO dari kawasan Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, Hongkong, Brunei Darussalam, dan Filipina) melalui Guam dan langsung ke Amerika tanpa melewati kawasan Taiwan.

Rencana AAG ini sejalan dengan konsorsium yang akan membangun Palapa Ring timur, selain bisa ikut bergabung melalui Filipina atau langsung ke Guam. Jaringan ini sekaligus membentuk ring internasional dengan jaringan yang pernah putus di kawasan perairan laut Taiwan.

Saluran internasional ini sejalan dengan rencana Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) melalui Ditjen Postel yang melakukan tender untuk penyelenggara SLI (sambungan langsung internasional).

Langkah Depkominfo ini diharapkan bisa menciptakan suasana kompetitif yang sebenarnya sehingga bisa membuat tarif semakin rendah. Selama ini SLI hanya dikuasai Telkom dan Indosat yang dinilai tidak melakukan persaingan alias duopoli.

Maka, tidak heran apabila pemerintah menentukan syarat wajib, yaitu tender tidak dapat diikuti perusahaan selain PT Indosat dan PT Telkom, juga anak perusahaan ataupun pemilik saham di kedua operator SLI itu. Perusahaan SingTel Singapura, misalnya, tidak boleh lagi mengikuti tender karena perusahaan ini telah memiliki saham di Indosat dan Telkom.

Selain itu, pemenang tender juga wajib membangun jaringannya sendiri dan tidak boleh pakai fasilitas jaringan yang dimiliki Indosat maupun Telkom. Kebijakan pemerintah itu diambil untuk menghindari kepemilikan silang karena akibat kepemilikan silang membuat tidak terjadinya persaingan yang sesungguhnya.

Dengan bertambahnya paling tidak satu operator SLI, pelayanan diharapkan akan lebih baik dan tarif akan bisa turun. Selain itu, juga akan menambah bandwidth internasional yang sangat dibutuhkan untuk memperlancar koneksi internet yang berkiblat ke AS dan tidak tergantung dari gate yang ada di Singapura maupun Malaysia.

Telkom akan meningkatkan kapasitas saluran internasionalnya 15 kali lipat dari sekitar 2,5 gigabit per detik (Gbps) yang ada sekarang melalui konsorsium AAG. Indosat juga melakukan hal yang sama bergabung dalam konsorsium ini, termasuk bersama perusahaan mitranya, StarHub di Singapura.

Adapun XL memperlebar bandwidth dengan langsung membangun jaringan serat optik laut ke perusahaan induknya, Telekom Malaysia (TM), yang selama ini mengandalkan koneksi radio melalui Singapura. Di sini TM merupakan pemrakarsa konsorsium AAG sehingga koneksi serat optik ke TM ini secara otomatis akan terhubung ke jaringan utama AAG.

Sementara itu, masih ada agenda Depkominfo yang tertunda, yaitu menyelenggarakan tender untuk frekuensi broadband wireless access (BWA). Akses nirkabel pita lebar ini lebih dimaksudkan untuk akses dengan teknologi WiMAX bergerak yang akan menjadi cikal bakal jaringan komunikasi nirkabel generasi keempat (4G).

Sungguh diperlukan semangat Gadjah Mada dengan sumpah Palapanya untuk menyatukan kepulauan di Nusantara ini.(KOMPAS)

0 Komentar
Halaman  
Beri Komentar

Security Code
Fokus
Gigitan Apple
Duet Apple dan Intel cukup manjur untuk menggedor angka penjualan produk-produk Apple. Selain, tentu saja, fenomena iPod yang fenomenal.
Fuel Cell: Siap Geser Baterai Lithium di Notebook?
Apakah teknologi baterai terlalu sulit sehingga inovasinya terhambat? Tidak juga. Para vendor sudah lumayan lama menemukan fuel cell....
Sistem Operasi Fleksibel Bergaya Transformer
Terobosan Teknologi Edgeline
Menambah Informasi Geografi Digital
Trik
Agar Dokumen Tak Hilang
Ada beberapa tips agar dokumen tidak hilang. Tidak perlu hal-hal yang kelewat teknis. Cukup ubah kebiasaan berkomputer saja.
Aktual
Mencicipi Free AVG 8
Antivirus gratisan yang memiliki banyak pengguna dan peminat ini telah memiliki wajah baru. Kini, versi anyarnya menawarkan fasilitas pengaman yang lebih all-in-one.
© 2007 - Sinyal - All rights reserved -- Developed by Kompas Cyber Media